-advertisement
HomeNasionalIndonesian Tourism 2022

Indonesian Tourism 2022

- Advertisement -spot_img

Oleh: Hatma S


Tempat wisata akan kembali dibuka. Kabar hari ini pemberlakuan kebijakan plat nomor ganjil genap dilakukan di area wisata dengan predikat level tertentu. Di tengah tren menurunnya tingkat infeksi Covid-19, terbukanya kembali tempat-tempat wisata menjadi niscaya. Sudah siapkah Indonesia?

Ada yang berubah. Yakni bagaimanakah “New Normal” di pariwisata? Paling tidak, yang paling mudah diperkirakan adalah kebijakan pembatasan jumlah pengunjung tempat-tempat wisata. Ada yang membatasi hanya 50% dari kapasitas normal sebelum pandemi, ada yang 30% dan lain-lain. Lihat saja bagaimana pariwisata DKI dibatasi hanya maksimal menampung 30% wisatawan di pertengahan tahun 2021.

Tak hanya itu, insan dan pakar pariwisata juga menengarai kuat tentang matinya pariwisata massal alias mass tourism. Model tata kelola pariwisata dimana wisatawan menikmati daya tarik wisata secara berramai-ramai dalam satu rentang waktu.

Apalagi di beberapa tempat wisata di Indonesia, kebijakan pengelolaan tempat wisata belum memperhatikan prinsip kapasitas maksimum kunjungan pariwisata yang berbasis kaidah ecosystem services. Bagaimana ekosistem flora & fauna, serta sumber daya alam (SDA) di dalamnya, mampu mendukung jumlah manusia yang hidup dan beraktivitas disana.

Saya teringat di kala tahun 2012 mengunjungi Kepulauan Karimun Jawa. Wisatawan yang membludak di tengah-tengah isu keterbatasan pasokan air bersih di pulau itu. Juga saya melihat bagaimana titik-titik snorkeling dikunjungi banyak sekali wisatawan dalam satu waktu. Entah berapa banyak terumbu karang rusak akibat aktivitas ini kala itu..

Ini kita belum bicara dampak negatif lain, seperti: sampah, hilangnya budaya lokal, penyakit sosial, dll.

Saya juga teringat hal serupa di kala mengunjungi Pulau Pari di DKI Jakarta, sekitar awal 2019. Fenomena serupa saya lihat. Barangkali, fenomena serupa ini juga terjadi di banyak tempat wisata yang dekat dengan kota-kota besar.

Lantas, jika tren ke depan adalah small sized tourism dan ecotourism, apakah mass tourism akan benar-benar mati? Seluruh wisatawan, khususnya wisatawan domestik, akan menyesuaikan?

Salah satu sebab kenapa mass tourism di Indonesia begitu semarak adalah karena daya beli. Masyarakat ekonomi menengah-bawah berjumlah sangat banyak. Dengan daya beli terbatas, mereka akan berburu tempat wisata yang terjangkau.

Di sisi hilir, para Biro Perjalanan Wisata (BPW) melihat mudahnya menggaet segmen pasar ini. Mulai dari demand dan expectation mereka yang tidak terlalu bermacam-macam sehingga mudah untuk melayani mereka, hingga efisiensi yang akan didapatkan ketika bulky numbers of tourist bisa mereka layani, adalah alasan-alasan BPW menyambut baik segmen ini.

Maka, ketika tempat-tempat wisata populer akan memberlakukan kebijakan New Normal, yang mengadopsi prinsip small numbers of tourists dan ecotourism, kemanakah wisatawan dari segmen menengah-bawah ini akan menghabiskan uang mereka untuk pariwisata? Karena model pariwisata New Normal itu pasti berbiaya lebih tinggi. Dan, kapasitas terbatas!

Dugaan saya, akan ada banyak tempat yang semula bukan tempat wisata, tiba-tiba berubah menjadi tempat wisata. Pantai yang semula hanya dimanfaatkan oleh nelayan, yang kotor & bau, tiba-tiba akan berubah menjadi tempat wisata dimana anak-anak berenang, bermain pasir di antara sampah plastik dan ikan-ikan asin yang tengah dijemur, muncul jasa parkir, muncul warung-warung ikan bakar, dan karaoke plus-plus.

Begitu juga dengan lereng gunung yang semula hanya ditanami singkong dan durian, akan tiba-tiba menjadi camping ground, dengan toilet berbayar, dan sampah-sampah yang dibakar secara liar setiap pekannya.

Seluruh dunia pasti tahu seperti apa kharakter dari segmen penikmat mass tourism ini. Buang sampah dengan tertib? Kencing di tempatnya (toilet)? Menjaga lingkungan? Membiarkan bebas lepas hewan liar yang berharga mahal di pasar gelap?

Dugaan kedua yang tak kalah miris adalah akan semakin maraknya praktik suap. Dimana wisatawan “nakal” akan mencoba melakukan pelbagai cara supaya dapat masuk ke tempat wisata meskipun melanggar kebijakan pembatasan.

Bahkan, oknum petugas “nakal” yang menerima suap untuk pelanggaran serupa, juga bisa jadi akan bertumbuhan bak jamur. Karena melihat demand dari wisatawan, dan juga “restu tersamar” dari pengelola tempat wisata demi alasan break even point dan return on investment. Jadi percuma saja upaya menghadirkan gaya hidup New Normal.

Jadi, sebenarnya sudah siapkah rakyat Indonesia dengan era New Normal pariwisata Indonesia? Kita dalam arti seluruh stakeholders pariwisata di semua kabupaten kota.

Ataukah, persetan dengan tren tentang gaya baru pariwisata dengan small sized tourism dan ecotourism itu? Demi alasan ekonomi dan upaya memberantas kaum rebahan akhir pekan.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Stay Connected
16,985FansLike
2,458FollowersFollow
61,453SubscribersSubscribe
Must Read
- Advertisement -spot_img
Related News
- Advertisement -spot_img