-advertisement
HomeOpiniTaqdisul Wasail

Taqdisul Wasail

- Advertisement -spot_img

Oleh: Sultan Alam Gilang Kusuma


Dalam tradisi kawan – kawan yang terkoneksi dengan konten dakwah, ada sebuah istilah istilah “al mutasaqitun ala thariqid dakwah” atau mereka yang disebut sebagai “berguguran dijalan dakwah”, persis seperti judul buku yang ditulis oleh Fathi Yakan. Sebutan ini disematkan untuk mereka yang kemudian dianggap sebagai orang yang menyeleweng dari cita – cita atau meng-emoh-kan sebuah perintah atau lebih mudahnya lagi membelot dari tujuan.

Hal ini menarik sebab muncul sebuah pertanyaan adakah loyalitas sebagai sebuah kepentingan dalam suatu lingkungan sosial, atau justru didalamnya selalu bersifat dinamis sesuai dengan konten yang terikat pada masing – masing aktor didalamnya. Sebab sejatinya, setiap manusia yang kemudian menjalin relasi untuk tujuan tertentu adalah mereka yang terikat pada konten masing – masing. Sehingga hubungan antar konten itulah yang membuat mereka membentuk relasi dalam usaha mencapai tujuan.

Maka menarik menyimak istilah yang disebut sebagai “taqdisul wasail” atau upaya mengkultuskan sebuah hubungan relasi mencapai tujuan (organisasi). Sehingga orang – orang yang kemudian menganggap bahwa jika sudah terkoneksi dalam satu hubungan yang lain, kita tidak boleh terkoneksi dengan yang lainnya.

Kemudian orang – orang ini terjebak pada jebakan strukturalis, yang membuat mereka memunculkan istilah berguguran dijalan dakwah tadi, dianggap tidak loyal, dan mereka tidak menyadari pada dasarnya tidak ada hubungan yang selalu baku bahkan dengan istilah “sedarah”.

Seorang Antropolog yang mengembangkan Paradigma jaringan sosial, Rudy Agusyanto dalam bukunya menyebutkan bahwa, “ “Darah lebih kental daripada air. Pepatah tua ini ternyata tidak berlaku untuk semua konteks sosial.

Ada kalanya…seorang Raja menjatuhi hukuman mati kepada Putra Mahkotanya sendiri yg memberontak. Dan, ada kalanya seorang Putra Mahkota mengeksekusi Ayahnya untuk merebut tahta. Ada kalanya…seseorang lebih membela teman/sahabatnya daripada kerabatnya. Bahkan, dua sejoli rela meninggalkan orang tuanya demi kekasihnya. Masih banyak lagi “ada kalanya” yg lain…

Ternyata, memang sudah sejak dahulu kala, yg menentukan “kekentalan” sebuah relasi bukanlah karena “darah” atau “air”. Konteks sosial itu sendirilah yg menentukan “kekentalan” sebuah relasi. Dan bukan pula karena jaman sudah berubah, sebab hal ini sudah terjadi sejak dulu kala…”

Doktrinasi terhadap kultusnya suatu organisasi membuat orang – orang ini tidak menyadari bahwa mereka semua terikat oleh konten, dan dalam mencapai tujuan mereka akan menolak untuk berkolaborasi dengan orang lain dengan alasan tidak sesuai tujuan.

Dalam hal mengembangkan organisasi, apalagi dengan tujuan yang cukup besar, tidak mudah jika hanya berfokus pada standar pengembangan yang membawa kita terjebak pada strukturisasi, membawa kita pada kondisi “taqdisul wasail”.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Stay Connected
16,985FansLike
2,458FollowersFollow
61,453SubscribersSubscribe
Must Read
- Advertisement -spot_img
Related News
- Advertisement -spot_img